
‘He has made everything beautiful in His time’
nah ini kata-kata yang paling tepat for my love life.
Saya ketemu dengan suami, pada saat kuliah di tingkat akhir, padahal
sebelumnya saya sedang pacaran dengan orang lain yang sudah berlangsung
4,5 tahun. Pada saat itu saya menjadi panitia seminar Architecture
di kampus, kebetulan kami menjadi panitia di bagian yang sama, so…alhasil
kita jadi sering ketemu, ngobrol n becanda bareng. Awalnya sech
suami itu orangnya pendiem, maklum dia termasuk salah satu anak
yang lumayan pinter di kampus. Awalnya teman-teman banyak yang memandang
sebelah mata kepada kami. But…ga disangka pada saat perkenalan
kami baru menginjak 3 bulan dia langsung ngajak jadian, dan saya
baru putus dengan pacar lama saya. Dan yang lebih mengagetkan lagi,
suami langsung bilang gini ‘ saya pacaran untuk serius bukan
untuk main-main, Enjel pacar pertama Rinto, dan akan menjadi yang
terakhir’. WOOOW…sempet shock juga dibilang gitu, tapi
kita jdian juga. Dan di tahun pertama pacaran kita mulai menghitung-hitung
waktu & budget pernikahan, akhirnya ditentukanlah tgl 8 October
2006.
Kami menyiapkan pernikahan jauh-jauh hari, agar tidak grasa-grusu
mendekati hari H, dan lagi kami tidak mau mengambil paket, jadi
semuanya serba lepasan. Sudah dari 2 tahun sebelum kami mencari
vendor dan ada beberapa yang sudah di full payment dari 2 tahun
sebelum, dengan alasan biar murah, karena harga lama & mengikat.
‘Manusia boleh berencana, Tuhan juga yang menentukan’
Walaupun sudah disiapkan jauh-jauh hari ternyata, pada saat 6
bulan sebelum hari H ada perubahan. Kami baru tahu, bahwa gereja
kami tidak bisa mengadakn pemberkatan di hari Minggu. So…semua
rencana & vendor-vendor harus di contact ulang, dan ternyata
vendor video & photo tidak bisa meliput di hari sabtunya. So…kita
harus mencari alternatif lain, untungnya banyak teman-teman gereja
yang biasa meliput acara, mau membantu meliput pernikahan kami,
kebetulan suami juga jago ‘ngedit’ photo maupun video,
so…satu kepanikan berlalu. Kepanikan berikut adalah 3 bulan
sebelum hari H, saya dipercaya oleh kantor untuk memegang departement
baru yang butuh pengawasan, dan sangat menyita waktu. Dan di saat
yang suami juga mendapat proyek baru di kantornya yang sangat menyita
waktu. So…di hari-hari menjelang hari H yang seharusnya kami
repot mengurus pernikahan, kami malah jarang bertemu, karena repot
dengan urusan kantor.
Kami baru ambil cuti 4 hari sebelum hari H. Lamaran pun baru dilakukan
H-1. Rencana honeymoon pun baru dipesan 1 bulan sebelum, dan dokumen
keberangkatan (passport) baru diperpanjang 1 bulan sebelum. Rencana
awal kami yang ingin bersantai-santai menjelang hari H, semuanya
sirna. Yang ada 4 hari cuti, kami pakai untuk meeting dengan vendor,
lamaran, mencari kekurangan barang & pilih lagu. SANGAT MEPET.
Ya…itu yang ada di pikiran saya.
Untunglah semua bisa dilalui, tibalah tgl 7 October 2006, hari
pemberkatan pernikahan kami. Untung pemberkatan pernikahan dimulai
jam 13.00, jadi kami tidak perlu bangun terlalu pagi untuk bersiap-siap.
Acara pemberkatan & catatan sipil selesai pkl. 15.00. Lalu kami
langsung kembali ke Crowne plaza Hotel untuk beristirahat. Tetapi
pada saat di mobil penganten, suami bilang pusing, mau muntah. Saya
tahu penyebabnya karena dari pagi sampai jam 15.00 dia belum makan,
begitu juga saya. Saya pikir dia hanya masuk angin biasa. So…sesampainya
di hotel saya suruh dia makan, minum obat & beristirahat, karena
besok masih ada Wedding Reception yang dinantikan. Tapi sampai pkl.
20.00, saya bangunkan dia untuk makan malam, keadaannya bukan makin
membaik malah makin parah. So…tanpa pikir panjang langsung
saya bawa suami ke Rumah sakit MMC, masuk UGD dan langsung diperiksa
dokter. Saya langsung mengatakan kepada dokter, bahwa besok akan
ada acara besar. Setelh diperiksa & tes darah ternyata suami
kena gejala typhus. Malam itu juga suami diinfus sampai dengan jam
2 pagi. Saya, kakaknya & ibunya yang menunggui di RS. Untungnya
pagi itu kami boleh langsung pulang, jam 2.30 kami sampai di hotel.
Jam 3 pagi saya baru bisa tidur.
Jam 6 pagi keesokan harinya saya sudah bangun dengan mata yang
bengkak-benkak. ‘WOW…this is the big day that I’m
waiting for 2 years’. Pagi-pagi saya langsung melihat suami
sudah segar. ‘Thanx God’. Jam 8 saya sudah mulai make
up, alhasil make up artis saya langsung bertanya ada apa dengan
mata saya. Untungnya make up artis saya (ADE) jago sekali untuk
menutupi kekurangan saya, dan orangnya sangat baik.
So…acara demi acara berlangsung. Dari make up, acara jemput-jemputan,
foto-foto indoor & outdoor, tea pay, & session foto keluarga.
Dan…tibalah wedding reception nya. Kami berdua sangat grogi,
apa yang telah kami rencanakan jauh-jauh hari, tiba-tiba saya tidak
berani untuk maju & bertemu dengan para tamu, untung suami terus
menggandeng tangan saya dan meykinkan saya & selalu membuat
wajah, mimik yang lucu, sehingga lumer lah ketakutan saya.

Suami saya pemalu, setiap acara yang disarankan oleh Mc, selalu
ditolaknya. Mulai dari menyanyi, dancing, berlutut & membawa
bunga. Tetapi tanpa diduga-duga pada saat acara, saat kami akan
minggle berkeliling bertemu tamu, tiba-tiba Mc (Tia Monica) meminta
kami untuk 1st dance. OOOooow….suami langsung memandang saya
dengan wajah meminta tolong. Lalu akhirnya kami berdua berdansa,
persis seperti anak SMA yang sedang Promp Nite, karena kami berdua
sama-sama tidak bisa dansa. Hanya sekejap, beberapa puluh detik,
tapi begitu berkesan. Tak terlupakan. Malam itu kami begiru senang.
Dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pkl. 22.00, Kami makan malam
dan setelah itu……suite room pengantin telah menanti.
Kami harus bersiap-siap untuk beristirahat, karena besok pagi-pagi
kita sudah harus berangkat ke bandara. ‘ Malaysia….Singapore….here
we come’
Di pesawat, saya dan suami hanya menghela nafas & tertawa.
Segala yang besar telah kita lalui, tetapi masih banyak & lebih
besar di hari esok yang harus kami lalui.
Tuhan terima kasih untuk berkat Mu kepada keluarga kecil kami.
Terima kasih buat keluarga yang sudah banyak membantu, Mbak Ade
yang sangat banyak membantu dari awal persiapan pernikahan sampai
akhir, Mas Tessar yang sudah bersedia meliput pemberkatan pernikahan
kami, buat tamu & teman-teman yang sudah hadir di resepsi pernikahan
kami.
|