Lambang Keharmonisan dan Kemantapan Hati
Sajen dalam upacara pernikahan adat Jawa awalnya merupakan sajian yang dipersembahan untuk arwah nenek moyang dan dewa. Tujuannya agar calon pengantin mendapatkan berkah dari roh para leluhur dan dewa. Namun saat ini sajen hanya sekedar hiasan dan perlambang untuk menyemarakan suasana dan ruangan pesta pernikahan serta sebagai suguhan bagi para keluarga, kerabat dan undangan yang datang.
Pada pernikahan pengantin Surakarta (Solo), ada beberapa macam sajen yang berisi ragam makanan khusus yang disiapkan calon pengantin seperti Sajen Bucalan, Sajen Tarub, Sajen Siraman, Sajen Ngerik, Sajen Rasulan, Sajen Midodareni, Sajen Nikah dan Sajen Sepasaran. Dari seluruh sajen yang tersedia, hampir sebagian besar menggunakan jajanan pasar khas Jawa. Simak saja Sajen Bucalan yang berisi tumpeng kecil lima warna, jajanan pasar seperti jadah, wajik, uwi gembili, tape dan masih banyak lagi. Demikian juga pada Sajen Tarub terdiri dari nasi putih, ayam panggang, burung dara, sayur menir dan jajanan pasar.
Sajen
Siraman terdiri dari ayam panggang, tumpeng nasi, sayuran, lauk pauk seperti
daging kebo siji goreng, tempe goreng. Tak ketinggalan, jajanan pasar
dan ragam buah-buahan. Saat siraman, es dawet juga menjadi salah satu
makanan wajib sajen yang disiapkan orang tua calon pengantin wanita. Es
dawet disimpan di dalam wadah kendil dan dijjual kepada para tamu yang
datang saat upacara siraman. Yang menarik, uang untuk membeli es dawet
berupa tanah liat atau pecahan genting. Es dawet melambangkan harapan
agar rumah tangga calon pengantin selalu harmonis dan langgeng.
Untuk Sajen Ngerik, terdiri ragam makanan khas Jawa seperti jajanan pasar, buah-buahan termasuk pisang rajadan pisang pulut, bermacam-macam jenang dan masih banyak lagi. Setelah upacara siraman, sore harinya diadakan upacara rasulan. Sajen Rasulan merupakan hidangan pada saat calon pengantin, keluarga, kerabat dan undangan yang hadir mengirimkan doa dan shalawat kepada para Rasul. Sajen Rasulan atau Nasi Asahan dibuat dalam jumlah ganjil yaitu 5, 7 atau 9 buah. Terdiri dari ketan, kolak dan kue Apem, jenang 3 macam, Sego Golong (nasi yang dibuat bulat-bulat), Jangan (Sayur) Menir, nasi putih, lauk pauk, lauk goreng-gorengan dan jajanan pasar. Setelah pembacaan doa selesai, semua yang disajikan dibagi rata menjadi 7 bagian dan diberikan kepada yang hadir. Cara ini merupakan suatu kebiasaan, bukan keharusan.
Pada malam Midodareni, biasanya diadakan Sajen Midodareni atau Sajen Majemukan. Biasanya terdiri dari pisang raja, jajanan pasar, nasi uduk atau nasi gurih, opor ayam jantan lengkap dengan jeroan di dalamnya (disebut Ingkung), sambal goreng krecek/ati, kedelai goreng. Sajen ini dibagikan saat pukul 24.00. Bersamaan dengan ini, disediakan pula lauk khusus untuk calon mempelai putri yang terbuat dari jeroan ayam dengan bumbu pindang yang disebut Pindang Antep. Tujuannya agar calon pengantin putrid menjadi mantap hatinya mengadapi saat yang sangat penting yaitu pernikahan.
Sajen Nikah dibuat dan dipersiapkan sebelum upacara pernikahan. Makanan yang ikut disajikan dalam sajen ini yaitu pisang raja, jajanan pasar, dan buah-buahan lainnya. Setelah sepasar atau 5 hari setelah hari pernikahan, di rumah orang tua pengantin pria biasanya diadakan upacara Ngunduh Mantu. Dalam acara ini, disediakan Sajen Sepasaran yang disediakan sebelum upacara Ngunduh Mantu berlangsung. Dalam sajen ini, terdapat jajanan pasar, buah-buahan, bermacam jenang, dan Sego Janganan (Nasi Urap). Sajen ini disajikan di tempat yang telah ditentukan. Saat pengantin datang, nasi urapan dibagi-bagikan kepada anak-anak, tetangga dan teman-teman.
Teks: Ratri Suyani
Sumber: Tata Rias Pengantin Basahn Surakarta dan Tata Rias Pengantin Solo Putri oleh Naniek Sunyoto
Foto: Dok. Istimewa
|