Warna-warni dalam prosesi pernikahan gaya Betawi turut hadir dalam makanan antaran yang diberikan calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita. Yang paling populer saat ini adalah roti buaya. Roti buaya merupakan lambang kesetiaan karena hewan tersebut dikenal sebagai binatang yang setia dan hanya kawin sekali seumur hidup. Karena itu, dengan adanya roti buaya, diharapkan kedua mempelai bisa hidup langgeng selamanya, tanpa perlu perceraian dan menikah lagi dengan orang lain. Sebuah prinsip pernikahan yang tertinggi dan tidak bisa tergantikan oleh apapun. Aslinya, roti buaya tidak ada isinya. Namun sekarang ini banyak pembuat roti buaya yang memasukan coklat, keju, sosis atau daging ke dalam roti agar lebih nikmat saat disantap.
Selain roti, adapula pisang raja yang jumlahnya dua sisir. Pisang raja menjadi pilihan utama mengingat pisang tersebut adalah pisang terbaik di antara pisang-pisang lainnya karena lebih kuat dan dapat bertahan dalam beberapa alias tidak cepat busuk. Saat akan dijadikan antaran ketika lamaran, ujung pisang raja dibungkus dan dibuatkan topi menggunakan kertas warna kuning atau merah atau warna emas dan metalik.
Yang tak boleh ketinggalan adalah sirop (umumnya berwarna merah berjumlah tiga botol). Sirop yang rasanya manis ini menjadi lambang akan terbentuknya hubungan antar keluarga yang harmonis dan rukun. Penggunaan sirop sebagai salah satu antaran lamara ini juga disebabkan adanya kebiasaan orang Betawi memakan roti ditaburi atau ditutul dengan sirop. Sirop dimasukan dalam bongsang diikat rapi dan diberi hiasan dengan kertas krep warna-warni.
Teks: Ratri Suyani (dari berbagai sumber)
|