PENGANTIN WANITA
Suntiang, sebagai kekhasan pengantin Minangkabau Pesisir yang berasal dari daerah Padang/ Pariaman. Kembang-kembang suntiang ini umumnya bertingkat dengan ganjil dimulai dari tujuh tingkat hingga sebelas tingkat. Ada juga suntiang bertingkat mulai dari tiga hingga lima yang biasanya digunakan untuk pendamping pengantin atau dikenal juga dengan sebutan Pasumandan. Namun karena alasan kepraktisan dan menyesuaikan dengan bentuk wajah, kini tingkatan pada Suntiang dipertahankan ganjil namun jumlah tingkatannya disesuaikan dengan kemampuan dan kemauan si pengantin.
Keindahan Suntiang diawali dengan susunan kembang goyang yang digunakan oleh tiap pengantin wanita. Pada lapisan bawah Suntiang digunakan kembang goyang yang dinamakan Bungo Sarunai yang terdiri dari tiga hingga lima deretan. Lapisan kedua digunakan kembang goyang yang dinamakan Bungo Gadang yang juga terdiri dari tiga hingga lima deretan. Terletak paling atas adalah Kambang Goyang dengan hiasan-hiasan lainnya yang disebut Kote-kote.
Di bagian belakang sanggul terdapat Tatak Kondai dan Pisang Saparak yang menutupi sanggul bagian belakang. Sedangkan di dahi pengantin wanita terdapat Laca, dan Ralia di bagian telinga. .
PENGANTIN PRIA
Pengantin pria dari Padang/ Pariaman menggunakan destar saluak ikek, kopiah dari kain beludru berwarna yang ditambah ornamen pilinan logam berwarna kuning emas.
Teks: Ratri Suyani & Fitri Harini
Sumber: Tata Cara Perkawinan Adat Istiadat Minangkabau oleh Nazil Basir & Elly Kasim
Pengarah Gaya: Ratri Suyani
Busana & Aksesori: Rumah Solek by Ipung
Tata Rias Wajah & Rambut: Rumah Solek by Ipung
Foto: Image 8 Photography
Model: Mungky (B Management) & Bima
|